Minggu, 20 April 2014

Deteksi Berbagai Jenis Kanker Semudah Tes Darah Secara Sederhana

Lupakan cara lama yang menyita banyak waktu.

Tidak lama lagi mendeteksi berbagai jenis kanker dapat dilakukan semudah tes darah secara sederhana.

Pasalnya, para peneliti di Fakultas Kedokteran Stanford University tengah mengembangkan metode baru melalui tes darah, yang juga dapat digunakan untuk mengawasi jumlah kanker di tubuh pasien. Selain itu juga mengukur respon mereka terhadap beragam pengobatan. Penemuan ini diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine.

Tes tersebut, disebut CAPP-Seq atau Cancer Personalized Profiling by deep Sequencing, adalah penyempurnaan dari pendekatan-pendekatan yang sudah ada untuk mengukur tingkat DNA tumor dalam aliran darah pasien, menurut studi tersebut.

Menurut voanews, metode baru tersebut dapat secara akurat mengidentifikasi sekitar 50 persen orang-orang yang diteliti dengan kanker paru-paru stadium-1 dan semua pasien dengan kanker stadium lanjut.

"Saya kira ini kemajuan yang penting dalam wilayah ini," ujar Dr. Abhijit Patel dari Yale Cancer Center dan Rumah Sakit Kanker Smilow, tempat ia melakukan riset serupa.

Patel mengatakan salah satu terobosan besar dalam tes ini adalah kemampuan mengawasi perubahan dalam mutasi DNA pada pasien-pasien kanker yang sudah menerima pengobatan dan mungkin mengembangkan resistensi terhadap obat tertentu.

"Tujuannya adalah mendeteksi tumor-tumor sangat kecil tahap dini," sambungnya.

Ia juga mengatakan tes itu kemungkinan besar tidak akan memberikan hasil positif yang keliru karena mutasi DNA kanker kemungkinan besar tidak ditemukan pada orang sehat.

sumber:
jpnn.com

6 Tanda Diet yang Sudah Melewati Batas

DIET untuk menurunkan berat badan sah-sah saja untuk dilakukan selama mengikuti pola yang wajar dan sehat.

Sebab penerapan diet yang terlalu ekstrem bukannya menyehatkan tetapi justru memberi risiko buruk terhadap kesehatan anda.

Berikut 6 tanda diet yang anda lakukan sudah melewati batas:


1. Energi menurun drastis

"Ini ciri utama bahwa asupan kalori anda terlalu rendah. Anda tidak punya cukup bahan bakar, sehingga anda akan merasa lelah sepanjang waktu," kata ahli gizi olahraga Nancy Clark, MS, RD, seperti dilansir laman Women's Health Magazine.

Sebagai aturan umum, kebanyakan wanita membutuhkan setidaknya 1.200 hingga 1.400 kalori per hari untuk mempertahankan fungsi metabolisme yang sehat, namun sebagian wanita lain dengan aktivitas lebih banyak mungkin memerlukan kalori yang juga lebih dari jumlah tersebut.

2. Terlalu memikirkan apa yang bisa dimakan

Jika anda terlalu fokus menghitung asupan kalori dan terus-menerus merenungkan menu makanan yang sudah atau baru akan dimakan, maka anda sudah terobsesi secara tidak sehat. Diet merupakan perubahan gaya hidup yang membuat anda menjadi lebih waspada terhadap asupan kalori, tetapi bukan berarti anda harus berperilaku obsesif.

3. Memangkas satu jenis asupan tertentu

Berhenti mengkonsumsi karbohidrat atau jenis asupan lain mungkin akan cepat membantu menurunkan angka timbangan. Masalahnya, kebiasaan ini membuat anda kehilangan salah satu nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh, seperti misalnya karbohidrat kompleks untuk energi atau vitamin B yang berfungsi menjaga suasana hati anda tetap stabil.

4. Tidak bisa tidur

Selain rasa lapar berlebihan membuat anda tidak bisa tidur nyenyak dan terus terbangun, diet yang terlalu ekstrem juga membuat anda tidak cukup nutrisi untuk membantu memiliki tidur malam yang baik.

5. Menjauh dari kehidupan sosial

Rencana penurunan berat badan yang sehat adalah ketika anda tetap bisa beradaptasi dengan kehidupan sosial, termasuk saat sedang di rumah, makan di restoran dengan teman-teman, atau menuju ke sebuah pesta. Menghindari acara yang melibatkan aktivitas makan adalah tanda diet anda terlalu ketat dan perlu ditata kembali.

6. Suasana hati cepat berubah

Membatasi kalori terlalu banyak membuat kekacauan muncul pada struktur kimia otak. Pada akhirnya kondisi ini dapat membuat perasaan anda cepat berubah mulai dari depresi, cemas, dan tegang.

Bukan tidak mungkin jika terus dipaksakan kondisi ini akan membuat anda melampiaskan emosi pada makanan dan berat badan pun akhirnya kembali naik.

sumber:
jpnn.com

Sabtu, 19 April 2014

Bahaya Sodomi Berisiko Terjadinya Berbagai Penyakit

KASUS sodomi pada anak berulang kembali.

Korban sodomi selain akan mengalami guncangan psikis, kondisi fisik juga akan berisiko terjadinya berbagai penyakit. Saya coba menguraikan sedikit apa dampak anal sex pada saluran cerna bawah seseorang.
---------
Oleh: Ari F Syam*
---------
Anus atau dubur memang tidak dipersiapkan untuk menerima masuknya benda asing dari luar. Anus berperan sebagai tempat lewatnya feses atau kotoran, sehingga jelas bahwa anus bisa menjadi sumber infeksi.

Selain itu karena anus atau dubur tidak siap untuk menerima masuknya benda dari luar maka jika masuknya benda tersebut dilakukan secara dipaksa dan tanpa diberikan lubricant (pelumas) maka akan menyebabkan dinding anus dan bagian poros usus (rektum) rentan untuk luka.
Kondisi luka tersebut akan memudahkan tertularnya berbagai infeksi dari partner yang melakukan sex anal. Risiko terjadi luka akan bertambah banyak jika proses anal sex dilakukan secara dipaksa.

Berbagai penyakit infeksi karena hubungan seksual (sexually transmitted disease/STD) mudah ditularkan melalui hubungan anal sex ini. Berbagai penyakit STD tersebut antara lain HIV, herpez simplex, hepatitis B, hepatitis C, dan human papiloma virus (HPV) .

Selain itu infeksi bakteri yang bisa terjadi antara lain gonorea, khlamidia, syphilis dan shigelosis. Pasien dengan infeksi bakteri ini bisa saja mengalami diare yang berdarah dan berlendir, mengalami luka-luka terinfeksi bahkan timbul bisul dan radang di seputar bubur dan poros usus (rektum).

Timbul nyeri dan nyeri bertambah saat buang air besar. Akibat yang paling berbahaya dari anal sex ini adalah terjadi kanker anus. Resiko terjadi kanker sama pada semua jenis kelamin, baik laki-laki maupun perempuan.

Risiko terjadinya kanker anus lebih tinggi pada orang di bawah umur 30 tahun. Sejauh ini saya beberapa kali mendapat kasus kanker anus berumur di bawah 30 tahun dan berhubungan dengan riwayat anal sex.

Umumnya mereka melakukan anal sex dengan partnernya. Dari beberapa literatur yang saya baca kebiasaan anal sex dilakukan biasanya terinpirasi setelah menonton film porno. Oleh karena itu dengan kemudahan mendapatkan film porno melalui internet kebiasaan anal sex ini akan terus meningkat dari waktu ke waktu.

Akhirnya anal sex baik dilakukan secara terpaksa ataupun suka sama suka merupakan tindakan seksual berisiko tinggi untuk terjadinya berbagai infeksi baik virus maupun bakteri dan perlukaan pada anus dan organ sekitarnya termasuk kanker anus. (sam/jpnn)

*Ari F Syam
Praktisi Kesehatan dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM.

sumber:
jpnn.com
www.siteman.wustl.edu

Testpack untuk Deteksi Kanker Sedang Digarap

JIKA testpack biasanya digunakan untuk mendeteksi apakah seorang wanita hamil, kini dunia teknologi kesehatan tengah disibukkan dengan penemuan testpack terbaru.

Jika sukses, testpack nantinya juga dapat digunakan untuk mendeteksi apakah seseorang mengalami kanker.

Selain membantu meningkatkan kesadaran akan pentingnya pencegahan, penelitian testpack ini nantinya dapat meningkatkan pelayanan pencegahan dan menurunkan angka kematian, khususnya pada daerah dengan infrastruktur medis yang terbatas.


Dr. Sangeeta Bhatia, seorang peneliti di Massachusetts Institute of Technology mengatakan, teknologi terbaru ini akan menggunakan nanopartikel khusus yang berinteraksi dengan protein tumor yang disebut protease.

Hal ini menimbulkan berbagai biomarker atau petunjuk biologis untuk patologi. Dengan petunjuk-petunjuk kecil tersebut, diagnosis kanker bisa dilakukan melalui tes urine.

Dalam praktiknya gagasan ini cukup sederhana. Pertama, pasien yang berisiko kanker disuntik nanopartikel. Setelah nanopartikel tersebut melewati seluruh tubuh, mereka akan mengumpulkan bukti biologis tertentu dari lokasi tumor potensial.

Pasien kemudian diminta untuk buang air kecil pada secarik kertas yang dilapisi dengan campuran antibodi untuk membantu mengkaji informasi kimia yang dibawa oleh nanopartikel. Jika target biomarker positif, maka strip dalam kertas tersebut akan bereaksi.

Studi baru ini juga merupakan salah satu rangkaian dalam upaya meningkatkan kepedulian masyarakat akan skrining kanker dan deteksi dini tumor.

Sebelumnya para peneliti dari Johns Hopkins University juga pernah mencetuskan tes darah untuk deteksi dini kanker pankreas.

Agar cepat dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas, diharapkan penelitian yang telah dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of National Academy of Sciences ini segera mendapatkan respons positif dari peneliti-peneliti lainnya.

sumber:
jpnn.com

5 Kemungkinan Penyebab Tidak Segera Hamil

SEKS seharusnya menjadi ritual yang intim sekaligus menyenangkan bagi pasangan suami istri.

Tapi coba perhatikan, biasanya pasangan yang ingin segera punya momongan malah tidak lagi merasakan kenikmatan bercinta.

Bahkan sebuah survei dari Inggris menemukan rata-rata pasangan sampai bercinta sebanyak 104 kali kali ketika menginginkan momongan atau empat kali dalam seminggu selama enam bulan. Tidak heran lama-lama mereka dibuat kelelahan dan stres karenanya.

Namun sebenarnya apa penyebab pasangan tidak kunjung bisa hamil walaupun telah berulang kali bercinta?
Berikut sejumlah alasan yang dapat mendasari kondisi tersebut.

5 Kemungkinan Penyebab Tidak Segera Hamil:


1. Terbentur jadwal

Seks baru terasa menyenangkan bila dilakukan secara spontan. Tapi ketika kebelet punya momongan, pasangan biasanya jadi bergantung pada jadwal.

"Padahal tekanan semacam inilah yang membuat seks tidak didasari hasrat tapi lebih ke aktivitas membosankan yang harus dilakukan," kata penulis buku 'Sex and the Baby Years' Dr. Hilda Hutcherson, MD, seperti dilansir laman CNN, Rabu (16/4).

2. Dilakukan karena tuntutan

Kalau sudah begini, seks biasanya tidak disertai dengan foreplay, bahkan tidak ada koneksi emosional sama sekali. Lama-lama para suami bisa merasa seperti objek seks bagi istrinya, karena yang ia inginkan hanya benih Anda.

Bahkan sebuah survei memastikan 11 persen pria merasa dimanfaatkan oleh istrinya demi bisa mengandung. Inilah yang membuat pria jadi malas bercinta.

3. Sama-sama stres

Meski bersemangat untuk punya anak, proses menuju kesana biasanya cenderung tidak begitu menyenangkan. Apalagi bila anda tidak kunjung hamil, kunjungan ke dokter untuk menjalani pemeriksaan kandungan atau kesuburan seringkali membuat hubungan intim jadi terasa menegangkan.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Fertility and Sterility juga menemukan wanita yang menjalani terapi kesuburan mengaku kurang puas dengan kehidupan seksnya, jarang bercinta serta tidak merasakan hasrat seks sebesar wanita subur.

Bahkan studi lain mengatakan menghadapi masalah seperti kemandulan dapat memberi dampak negatif terhadap kebahagiaan pasangan dan menciptakan ketegangan dalam hubungan.

4. Seks jadi rutinitas

Siapa sih yang tidak bosan dengan rutinitas? Ini juga berlaku untuk seks. Untuk itu pasangan harus kreatif, terutama bila Anda dan istri ingin segera punya momongan.

Pertama, jangan batasi seks hanya pada saat memasuki masa subur istri. Menurut Hutcherson, menyimpan sperma terlalu lama dapat menurunkan motilitas (kemampuan renang) sperma.

5.Lakukan seks dimanapun dan kapanpun Anda menginginkannya.

Jangan terpaku pada beban untuk bisa menghamili istri, tapi jadikan seks sebagai sarana untuk memperkuat hubungan dengan pasangan.

sumber:
jpnn.com

Jumat, 18 April 2014

Gorengan Tingkatkan Resiko Kegemukan Hingga 4 Kali Lipat

DEMI alasan kesehatan, para ahli selalu menganjurkan untuk menjauhi makanan yang digoreng.

Penelitian sudah membuktikan bahwa bagi yang secara genetis punya bakat gemuk, gorengan bisa meningkatkan risiko kegemukan hingga 4 kali lipat.

Selama ini, asupan goreng-gorengan dan faktor genetik sama-sama terkait dengan risiko penumpukan lemak. Namun, interaksi keduanya dalam mempengaruhi risiko kegemukan belum pernah diteliti.

Tim ilmuwan pimpinan Lu Qi di Harvard School of Public Health, Amerika Serikat (AS) menemukan hubungan nyata antara genetik dengan gorengan dalam mempengaruhi berat badan. Faktor genetik terbukti meningkatkan risiko kegemukan, namun pengaruhnya meningkat bila ada asupan gorengan yang tinggi.

Keseimpulan itu diperoleh setelah tim peneliti mengamati konsumsi gorengan pada 37.000 orang di AS. Selain itu, para ilmuwan juga memeriksa 32 variasi genetik yang berhubungan dengan kegemukan dan indeks massa tubuh (IMT).

Pada partisipan dengan bakat gemuk yang mengonsumsi gorengan 4 kali dalam sepekan, terdapat perbedaan IMT hingga 1 kg/m2 pada laki-laki dan 0,7 kg/m2 pada perempuan. Pembandingnya adalah partisipan dengan faktor genetik sama, namun mengonsumsi gorengan kurang dari 1 kali sepekan.

Sedangkan pada partisipan yang tidak memiliki bakat gemuk secara genetis, perbedaan IMT teramati hanya 0,5 pada perempuan dan 0,4 kg/m2 pada laki-laki.

sumber:
jpnn.com

Bahayanya Terlalu Banyak Duduk Untuk Wanita

SEKARANG ini sudah semakin jamak ditemui seorang perempuan masih sibuk bekerja meski usianya tak muda lagi.

Namun hati-hati, studi membuktikan bahwa perempuan usia setengah baya yang terlalu lama duduk saat bekerja memiliki risiko yang lebih tinggi terkena kanker.


Hasil studi itu bahkan tidak menemukan perbedaan signifikan di antara perempuan pekerja yang rajin ke gym dan berolahraga. Sebuah penelitian yang dipublikasikan di American Journal of Preventive Medicine menunjukkan bahwa mereka yang lebih banyak diam dan tidak aktif bergerak selama lebih dari 11 jam sehari, kondisi tubuhnya menjadi lebih cepat rusak dan menua 12 persen dibandingkan mereka yang hanya diam dan tidak aktif bergerak selama 4 jam atau kurang.

Tidak hanya itu, pekerja yang lebih banyak diam karena duduk juga berisiko 27 persen lebih besar terkena penyakit jantung dan 5 kali lebih mungkin untuk terkena kanker.

Sebagian besar orang berasumsi bahwa jika mereka sudah aktif secara fisik, maka tidak akan menjadi masalah jika mereka menghabiskan sejumlah besar waktu untuk duduk setiap hari.

Penelitian itu dilakukan dengan meneliti 93.000 wanita pasca-menopause selama 12 tahun. Dr. Seguin dan timnya menemukan bahwa terlalu banyak waktu untuk duduk dapat meningkatkan risiko kematian.

Faktanya wanita mulai kehilangan massa otot mulai pada usia 35 tahun. Perubahan ini akan semakin cepat jika wanita tersebut memasuki usia menopause.

Terlalu banyak waktu untuk duduk di kantor atau sekadar menonton TV membuat wanita lebih sulit untuk mendapatkan kembali kekuatan fisiknya yang semakin menurun seiring pertambahan usia. Olahraga teratur, terutama angkat beban dan latihan pembangun otot, bisa cukup membantu melawan penurunan.

Hanya saja, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa gerakan sehari-hari saat bekerja justru dianggap lebih penting untuk menjaga kesehatan. Dr. Seguin yang merupakan seorang ilmuwan gizi menyarankan mereka yang telah memasuki usia setengah baya atau lebih muda untuk melakukan perubahan kecil.

Misalnya jika anda sedang berada di kantor, cobalah untuk beberapa kali berdiri dan berjalan sesering mungkin.

sumber:
jpnn.com

Top Weekend