Ada 2 Jenis Kelainan Jantung pada Bayi

Dokter Mahrus Abdur Rahman SpA(K) SpJA dari RSUD dr Soetomo mengatakan, kasus CHD terus meningkat.

Sehari ada 20 pasien yang berobat ke poliklinik. Sementara itu, seminggu poliklinik buka dua kali. Dengan demikian, ada lebih dari 100 pasien tiap bulan.


Padahal, sehari dokter hanya bisa mengoperasi 1-2 pasien. Karena itu, antrean pasien untuk ikut operasi baru habis dua bulan. "Karena operasi ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Paling banter sehari bisa mengoperasi dua pasien. Itu pun yang satu kasusnya ringan," jelas spesialis jantung anak itu.

Mahrus menengarai, semakin meningkatnya kasus tersebut disebabkan kehidupan masyarakat yang semakin maju. Selain paparan bahan kimia dan polusi, penyebab kelainan itu diduga karena obat-obatan dan infeksi. Ada juga faktor keturunan, tapi persentasenya kecil, hanya 3 persen. "Penyebabnya lebih banyak faktor luar."

Karena itu, sedapatnya kelainan tersebut dideteksi agar pencegahan dapat dilakukan. Yakni, pada masa kehamilan. Biasanya, gangguan saat masa kehamilan terjadi pada tiga bulan pertama. Masa itu merupakan proses pembentukan organ utama.

Jika ada gangguan, bisa terjadi penyempitan atau lubang di jantung. Karena itu, ibu hamil muda harus berhati-hati. Sebisanya jangan sampai sakit sehingga mengonsumsi obat-obatan, terutama yang dapat berpengaruh pada janin.

Ibu hamil dianjurkan konsultasi ke dokter jika akan mengonsumsi obat. Selain itu, tidak boleh sembarangan mengonsumsi makanan. Hindari bahan pengawet. Juga paparan pestisida. Upayakan tidak terserang flu karena virus ganas bisa memengaruhi pertumbuhan janin. Hindari pula asap rokok dan asap kendaraan.

Deteksi dini bisa dilakukan dengan melakukan USG janin 4 dimensi pada masa kehamilan mencapai 16-18 minggu. Dengan pemeriksaan, bisa diketahui kondisi jantung dan kelainan lain. "Jika memang ada kelainan, bisa diantisipasi upaya yang dilakukan saat bayi sudah lahir," jelas Mahrus.

Prevalensi kelainan itu sekitar 2-3 persen dari jumlah kelahiran hidup. Di antara 100 bayi yang lahir, diperkirakan ada 2-3 bayi yang mengalami CHD. Karena itu, perencanaan kehamilan sangat penting.

Kelainan tersebut sejatinya bisa diobati atau dikoreksi. Penanganan melalui operasi bisa dengan kateterisasi. Yakni, memasukkan alat ke pembuluh dengan menutup lubang yang bocor.

Ada dua jenis kelainan jantung. Kelainan bawaan dan yang didapat setelah lahir. Pada anak-anak, 80 persen mengalami kelainan jantung bawaan.

Kelainan itu terbagi dua.
Pertama, non-sianotik atau bayi tidak biru. Contohnya, VSD (ventricular septal defect atau lubang pada sekat bilik jantung), ASD (atrial septal defect atau lubang pada sekat antar serambi jantung), dan PDA (patent ductus arteriosus atau kelainan pada saluran yang menghubungkan antara pembuluh darah yang ada di jantung).

Kedua, sianotik atau bayi terlihat biru (kasusnya lebih berat). Misalnya, karena darah kotor masuk ke seluruh tubuh sehingga oksigen dalam tubuh berkurang.

Ada baiknya orang tua mewaspadai bila mendapati gejala itu pada anaknya. Gejala awal yang sering muncul jika kasusnya biru, antara lain, tubuh biru, napas cepat, mudah capai, dan pertumbuhan terhambat. Sering kali berat badan tidak sesuai dengan usia.

sumber:
jpnn.com

Subscribe to receive free email updates:

3 Responses to "Ada 2 Jenis Kelainan Jantung pada Bayi"

  1. Wuih ngeri mas, tetangga saya ada yang mengalami kasus yang kedua, bayinya biru, sudah seminggu lebih masih di rumah sakit. Sebaiknya memang pada saat hamil, asupan makanan harus benar-benar dijaga yang benar-benar makanan sehat ..

    ReplyDelete
  2. tetap berdoa selama masa kehamilan sangatlah perlu dengan tujuan untuk berlindung kepada Allah SWT atas bayi yang dikandungnya. Bukan hanya ibunya saja yang berdoa, melainkan juga ayahnya.

    ReplyDelete
  3. Mengerikan, apalagi kalo korbannya bayi, kasian sekali.

    ReplyDelete