Inilah Penyakit Pembunuh Balita Nomor Satu

Penyakit pneumonia (radang infeksi akut pada paru, red) merupakan pembunuh utama anak-anak di bawah usia lima tahun, atau balita di Indonesia, bahkan di dunia.

Setiap 20 menit anak Indonesia meninggal karena penyakit ini. Sedangkan di dunia, setiap 20 detik anak meninggal karena pneumonia. Oleh karena itu, pneumonia disebut sebagai pembunuh anak nomor 1.


Hal di atas disampaikan Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumbar, Aumas Pabuti, Sabtu (23/11). Kata Aumas Pabuti, di negara berkembang pneumonia merupakan penyakit yang terlupakan. Karena, dengan korban yang begitu besar, namun perhatian pemerintah sangat sedikit.

"Pneumonia adalah penyakit radang infeksi akut yang mengenai paru. Sakit ini menyebabkan batuk, demam, disertai sesak napas. Pneumonia akut dapat menyebabkan bayi meninggal. Di Indonesia rata-rata 83 balita meninggal per hari akibat pneumonia. Sedangkan di seluruh dunia, 230 anak per hari meninggal. Artinya, setiap 20 detik, 1 anak meninggal akibat pneumonia," jelas Aumas Pabuti yang juga mantan Dirut RSUP M Djamil ini.

Wanita yang juga memimpin Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Sumbar ini memaparkan, yang paling beresiko terserang pneumonia adalah anak yang kurang gizi, tidak mendapatkan ASI ekslusif, berat badan lahir rendah (BBLR), polusi udara seperti rokok, tunggu, dan kompor, serta karena tinggal di pemukiman padat.

"Pneumonia disebabkan bakteri, virus, dan jamur yang masuk ke dalam paru, berkembang biak dan menimbulkan kerusakan jaringan paru," ulas Aumas.

Dia memaparkan, setiap anak terlindungi dari pneumonia melalui lingkungan yang sehat dan memiliki akses untuk tindakan pencegahan dan pengobatan. Balita dapat dilindungi dengan memberi ASI ekslusif selama 6 bulan, nutrisi yang cukup sehingga gizinya baik. "Kurangi polusi asap rumah tangga dari tungku dan kompor. Sebaiknya tidak merokok di dalam rumah atau di dekat anak," jelasnya pada seminar dengan tajuk "Udara Bersahabat, Paru Anakku Sehat, Lawan Pneumonia" ini.

Acara Seminar Pneumonia ini dibuka oleh Ketua PP IDAI Dr Badriul Hegar PhD, SpA(K), dengan pemateri Ketua TP PKK Sumbar Nevi Irwan Prayitno, Dr Finni yang juga ketua panitia peringatan Hari Pneumonia se-Dunia 2013, Konsultan Paru Darmawan B Setyanto, dan Aumas Pabuti.

Dr Finni menjelaskan, sebelum seminar panitia Hari Pneumonia se-Dunia 2013 juga menyelenggarakan senam kebugaran massal di halaman kantor Gubernur Sumbar. Acara ini ibu-ibu pengurus PKK se-Sumbar, bundo kanduang, kader Posyandu, dan utusan Puskesmas. Selain itu, tadi malam para dokter anak dan beberapa narasaumber menjadi narasumber dalam dialog di Padang TV (Group Padang Eskpres) untuk menyosialisasikan bahaya pneumonia ini.

"Setelah senam. Kita seminar Pneumonia untuk orang awam dan besok (hari ini, red) seminar medis. Hari Pneumonia se-Dunia 2013 di Padang melibatkan ribuan orang. Mulai dari dokter hingga ibu rumah tangga," jelasnya.

Sedangkan Ketua PP IDAI Dr Badriul Hegar, PhD, Sp.A(K) mengatakan, ibu-ibu pengurus PKK, kader Posyandu, bundo kanduang adalah ujung tombak pencegahan dan penanganan pneumonia. Jika sosialisasi bahaya pneumonia diserahkan pada dokter, tidak akan berhasil seperti ibu-ibu. Karena ibu-ibu lebih dekat dengan anak-anak dan lebih dekat dengan kaum ibu lainnya.

Menurut Dr. Badriul, pneumonia bisa dilawan dengan kesadaran atau awareness dan pengetahuan yang baik terhadap penyakit itu dari semua pihak, baik para praktisi dan profesional kesehatan, kalangan pendidik, pihak swasta, masyarakat umum, juga pemerintah.

Melalui kesadaran dan pengetahuan akan bahaya pneumonia, apa saja yang menyebabkannya, cara penularan, faktor risiko, serta tentunya bagaimana mencegah dan mengobatinya, maka akan lebih banyak lagi anak Indonesia yang dapat diselamatkan. Sebab pada dasarnya, penyakit ini dapat dicegah dan disembuhkan," katanya.

sumber:
jpnn.com

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Inilah Penyakit Pembunuh Balita Nomor Satu"

  1. asi eksklusive brarti sangat bermanfaat ya..

    ReplyDelete
  2. Saangat bermanfaat artikelnya mas, kebetulan saya punya balita juga, bisa lebih waspada

    ReplyDelete